Aturan Baru Google 15 Juni: Fitur Iklan Back Button Dilarang, Publisher Harus Siap Beradaptasi
Oleh: Mas Gondes
Dunia publisher kembali dihadapkan pada perubahan besar. Mulai 15 Juni mendatang, Google akan menerapkan kebijakan baru yang secara langsung berdampak pada salah satu metode monetisasi yang selama ini cukup populer, yaitu Back Button Monetization atau monetisasi melalui tombol kembali (back button).
Bagi sebagian publisher, kabar ini tentu bukan hal yang menyenangkan. Pasalnya, fitur tersebut selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber tambahan pendapatan yang cukup efektif, terutama untuk trafik mobile.
Namun seperti yang sering saya katakan, dalam dunia publisher perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Yang terpenting bukan mengeluh, tetapi bagaimana kita beradaptasi dengan cepat.
Apa Itu Back Button Monetization?
Bagi yang belum familiar, Back Button Monetization adalah metode yang memanfaatkan tombol kembali pada browser.
Sederhananya, ketika pengunjung selesai membaca artikel lalu menekan tombol Back, mereka tidak langsung kembali ke halaman sebelumnya. Sebagai gantinya, sistem akan menampilkan halaman lain yang berisi iklan atau rekomendasi konten tambahan.
Dari sisi publisher, metode ini mampu meningkatkan jumlah impresi iklan dan menghasilkan pendapatan tambahan yang cukup menarik.
Namun dari sisi pengguna, pengalaman tersebut sering dianggap mengganggu karena mereka merasa "ditahan" saat ingin meninggalkan sebuah halaman.
Karena alasan itulah Google mulai mengambil langkah yang lebih tegas.
Mengapa Google Melarangnya?
Menurut Google, pengalaman pengguna atau User Experience (UX) harus menjadi prioritas utama.
Praktik yang memanipulasi tombol kembali dinilai dapat menurunkan kenyamanan pengguna saat menjelajahi internet. Oleh sebab itu, mulai 15 Juni Google akan membatasi format iklan yang mengandalkan interaksi back button secara agresif.
Bagi publisher yang selama ini mengandalkan metode tersebut, tentu ada kekhawatiran bahwa pendapatan akan ikut menurun.
Saya pribadi melihat kebijakan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Dalam beberapa tahun terakhir, Google memang terus bergerak ke arah pengalaman pengguna yang lebih baik dan lebih ramah terhadap pengunjung.
MGID Menawarkan Solusi Bernama Exit Story
Menariknya, di tengah perubahan ini MGID langsung menghadirkan alternatif yang disebut Exit Story.
Berbeda dengan Back Button yang bekerja setelah pengguna menekan tombol kembali, Exit Story menggunakan pendekatan yang lebih natural.
Teknologi ini memanfaatkan berbagai sinyal perilaku pengguna untuk mendeteksi kapan seseorang benar-benar berniat meninggalkan halaman.
Beberapa indikator yang digunakan antara lain:
Pengguna tidak melakukan aktivitas selama beberapa waktu.
Pengguna melakukan scroll cepat ke arah atas.
Pengguna berpindah atau hendak menutup tab browser.
Pengguna sudah membaca artikel hingga bagian bawah halaman.
Ketika sinyal-sinyal tersebut terdeteksi, sistem akan menampilkan konten iklan atau rekomendasi yang relevan sebelum pengguna benar-benar meninggalkan halaman.
Dengan cara ini, pengalaman pengguna tetap terjaga tanpa harus melanggar kebijakan terbaru Google.
Pendapatan Bisa Tetap Terjaga
Hal yang cukup menarik perhatian saya adalah data yang dibagikan oleh MGID.
Dalam pengujian internal mereka, format Exit Story disebut mampu meningkatkan RPM rata-rata sekitar 5 persen dibandingkan metode sebelumnya.
Bahkan pada beberapa kategori website tertentu, peningkatan pendapatan dilaporkan bisa mencapai 15 persen.
Tentu saja hasil tersebut bisa berbeda pada setiap situs karena sangat bergantung pada sumber trafik, niche, dan perilaku pengunjung.
Namun setidaknya ini menjadi sinyal bahwa masih ada peluang bagi publisher untuk mempertahankan bahkan meningkatkan pendapatan meskipun aturan Google berubah.
Cocok untuk Trafik Organik dan Media Sosial
Berdasarkan informasi yang tersedia, Exit Story bekerja cukup baik pada website yang memperoleh trafik dari:
Google Discover
Pencarian Organik Google
Referral Website
Media Sosial
Artinya, mayoritas blogger dan publisher Indonesia yang mengandalkan trafik organik maupun sosial media masih memiliki peluang besar untuk memanfaatkan format ini.
Tidak Perlu Repot Coding
Satu hal yang menurut saya cukup menarik adalah proses migrasinya yang relatif mudah.
Publisher tidak perlu melakukan perubahan kode secara manual, mengutak-atik script HTML, ataupun melakukan integrasi yang rumit.
Seluruh proses aktivasi dan konfigurasi Exit Story akan dibantu langsung oleh tim MGID.
Karena itu, bagi teman-teman publisher yang saat ini menggunakan MGID dan masih mengaktifkan fitur Back Button, sebaiknya segera menghubungi Account Manager atau Success Manager masing-masing sebelum tenggat waktu 15 Juni.
Kesimpulan
Perubahan kebijakan Google memang sering membuat publisher harus kembali beradaptasi. Namun inilah realitas dunia digital yang terus berkembang.
Menurut saya, daripada berfokus pada apa yang hilang, lebih baik kita mulai mencari peluang dari solusi yang tersedia.
Larangan terhadap Back Button Monetization memang menutup satu pintu, tetapi kehadiran Exit Story menunjukkan bahwa masih ada cara untuk mempertahankan monetisasi tanpa mengorbankan pengalaman pengguna.
Sebagai publisher, tugas kita bukan melawan perubahan, melainkan memahami perubahan tersebut dan memanfaatkannya sebaik mungkin.